Suriah, Di Ambang Kejatuhan Bashar al Assad

Ketika Bashar al-Assad menggantikan ayahnya, Hafez Assad tahun 2000, ada janji tentang Suriah yang lebih modern dan demokratis. Dalam pidato pelantikannya, al-Assad mengindikasikan, ia akan menjadi pemimpin yang berbeda dari ayahnya. “Saya akan mencoba yang terbaik untuk memimpin negara kita menuju masa depan yang memenuhi harapan dan ambisi sah rakyat kita,” katanya.

Untuk sementara janji itu tersimpan. Situs resminya mengatakan, ia telah membangun zona perdagangan bebas, menginzinkan lebih banyak koran swasta dan universitas swasta, dan berjuang mengatasi korupsi dan pemborosan pemerintah. Ia juga bekerja bagi reformasi sosial dan ekonomi.

Namun, walau ada sejumlah perubahan dalam pemerintahannya, banyak orang mengatakan janji al-Assad sebagian besar tidak terwujud.

Human Rights Watch menyebut periode kepresidennya sebagai “dekade yang terbuang” di mana media tetap dikuasai negara, internet dimonitor dan disensor, dan penjara masih dipenuhi para pembangkang.

Dua mantan orang dalam rezim itu – yang sekarang menjadi penentang – mengingat masa saat mereka bersama al-Assad masih muda. Mantan Wakil Presiden Abdel Halim Khaddam mengatakan, Bashar sering menjadi korban kekejaman kakaknya. “Saudaranya, Basil, mengganggu dia saat kanak-kanak. Ayahnya tidak pernah memberinya perhatian sebanyak kepada Basil,” kata Khaddam.

Rifaat, paman al-Assad sendiri, yang meninggalkan Suriah tahun 1984 setelah terlibat dalam kudeta yang gagal, juga berkomentar tentang al Assad. “Dia sangat berbeda dari ayahnya. Hafez seorang pemimpin, kepala seluruh rezim, sedangkan Bashar tidak pernah mendekati itu dan tidak pernah masuk dalam kerangka itu. Dia dianggap sebagai pemimpin tetapi ia mengikuti apa yang rezim putuskan atas namanya.”

Al-Assad sendiri mengatakan, reformasi tersendat karena kerusuhan di negara-negara tetangga, Lebanon dan Irak. Dia mengatakan kepada harian Wall Street Journal tahun lalu, “Ada banyak hal yang ingin kami lakukan pada tahun 2005, kami berencana untuk lakukan itu tahun 2012, tujuh tahun kemudian.”

Namun Abdel Halim Khaddam, yang pernah jadi wakil presiden baik untuk Bashar maupun ayahnya, mengatakan, al-Assad muda itu brutal dan tidak tegas. “Masalah Bashar adalah ia mendengarkan semua orang tapi kemudian membantah dan melupakannya dengan cepat. Anda mendiskusikan satu masalah dengan dia di pagi hari lalu orang lain datang dan mengubah pikirannya. Secara politis, Bashar tidak memiliki ideologi yang konsisten. Ia mengubah pendapatnya sesuai kepentingannya.”

Rezim Suriah juga merupakan urusan keluarga. Adik al-Assad, Maher, memimpin sebuah divisi elite tentara, dan dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia secara luas. Sepupunya, Rami Makhlouf, orang terkaya di Suriah.

Keluarga Assad berasal dari minoritas Alawi Suriah, yang menurut Rifaat, sang paman, didorong oleh ketakutan bahwa mereka bisa dikuasai. “Tidak ada keraguan bahwa Alawi merupakan minoritas yang berada dalam ketakutan dan mereka didorong oleh faktor ketakutan,” kata Rifaat.

Walau sudah terjadi penumpasan brutal selama setahun terakhir di Suriah, di mana ribuan orang telah tewas, al-Assad menegaskan, dia bukan pemimpin atas militer Suriah. Dia mengatakan kepada Barbara Walters dari ABC, “Mereka bukan pasukan saya. Mereka pasukan pemerintah. Saya tidak menguasi mereka. Saya presiden. Saya tidak memiliki negara ini. Jadi, mereka bukan pasukan saya.”

Bukankah al-Assad, panglima tertinggi, harus memberi perintah bagi setiap tindakan militer? “Tidak, tidak ada itu,” katanya.

Jadi, tidak atas perintah Anda? “Tidak, tidak ada perintah. Tidak ada perintah untuk membunuh atau menjadi brutal,” jawabnya.

Al-Assad mengatakan, anggota angkatan bersenjata yang “telah bertindak terlalu jauh” telah ditertibkan.

Namun Khaddam, sang mantan wakil presiden, tidak punya keraguan siapa yang memberi perintah untuk membunuh. “Bashar al-Assad dan tidak ada orang lain. Ia memberi perintah untuk menggunakan semua kekuatan demi menghancurkan revolusi. Ia dikelilingi para pembantu dekat dan aparat keamanan yang menasehatinya, tetapi ia memutuskan.”

Tak ada yang menduga bahwa Bashar yang akan melanjutkan dinasti politik keluarga. Dia tampak tidak memiliki kepribadian untuk pekerjaan itu, ia tidak terlibat dalam urusan militer atau pemerintah, demikian menurut buku “Inheriting Syria: Bashar’s Trial by Fire,” sebuah biografi yang ditulis Flynt Leverett, yang bekerja sebagai ahli Suriah untuk CIA pada 1990-an dan menjadi direktur senior urusan Timur Tengah di Dewan Keamanan Nasional AS pada awal tahun 2000-an.

Karena Basil, kakak Bashar, yang diharapkan untuk menggantikan ayahnya, maka Bashar al-Assad pergi ke London tahun 1990-an. Di sana ia mempelajari oftalmologi dan memimpin Syrian Computer Society. “Dr Bashar,” begitulah ia dikenal luas, suka selancar dan bermain voli.

Dia diyakini mulai berkencan perempuan kelahiran Inggris, Asma Al-Akhras, sejak tinggal di London itu. Bashar lalu dipanggil kembali ke Suriah tahun 1994 ketika Basil meninggal dalam kecelakaan mobil. Kematian Basil membawa Bashar ke panggung politik Suriah, dan dia diangkat sebagai presiden oleh parlemen Suriah tahun 2000 setelah ayahnya meninggal. Sebelum tahun 2000 berakhir, ia dan Asma menikah.

Tak lama setelah revolusi Musim Semi Arab pecah pada awal 2011, al-Assad membuat langkah nyata tentang arah perubahan di Suriah. Awalnya, pengunjuk rasa menginginkan reformasi mendasar, kebebasan yang lebih, sistem politik multipartai dan berakhirnya undang-undang darurat. Sejumlah langkah ini, di atas kertas, telah diterapkan al-Assad, tapi itu terlalu kecil dan sangat terlambat.

Setelah hampir setahun protes penuh kekerasan, pendukung oposisi kehilangan keyakinan mereka yang sempat ada pada kemampuan al-Assad untuk melakukan reformasi. Mereka kini hanya ingin mengakhiri kekuasaannya serta pemilu yang demokratis. Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *